Sabtu, 13 Februari 2016

Sejarah Freemasonry, Muslim Harus Tahu Mengapa Yahudi (Israel) Ingin Menguasai Palestina



Sejarah Freemasonry, Muslim Harus Tahu Mengapa Yahudi (Israel) Ingin Menguasai Palestina
(Oleh: Supiyandi)
 
Freemasonry adalah organisasi Yahudi Internasional, sekaligus merupakan gerakan rahasia paling besar dan palling berpengaruh di seluruh dunia. Freemasonry terdiri dari dua kata yang di satukan. Free artinya bebas atau merdeka, sedangkan Mason adalah juru bangun atau pembangun.Tujuan akhir dari gerakan Freemason ini adalah membangun kembali cita-cita khayalan mereka, yakni mendirikan Haikal Sulaiman atau Solomon Temple yaitu membangkitkan si mata satu Dajjal.
Tentang Haikal Sulaiman atau Solomon Temple ini sendiri banyak sumber yang mendefinisikan berlainan. Salah satu tafsir yang paling populer adalah, bahwa Haikal Sulaiman berada di tanah yang kini di atasnya berdiri Masjidil Aqsha. Mereka meyakini, tahun 1012 Sebelum Masehi (SM), Nabi Sulaiman membangun Haikal di atas Gunung Soraya di wilayah Palestina. Tapi pada tahun 586 SM, Raja Nebukhadnezar dari Babilonia menghancurkan Haikal Sulaiman ini. Tahun 533 SM, bangunan ini didirikan kembali oleh seorang bernama Zulbabil yang telah bebas dari tawanan Babilonia. Atas kebebasannya itulah, ia membangun kembali Haikal Sulaiman.
Pada tahun ke 70 M, seorang penguasa Romawi menaklukkan Palestina dan membakar serta menghancurkan Haikal Sulaiman ini. Kerusakan terus-menerus dialami setelah penyerbuan Bangsa Hadriyan. Begitu pula saat kekuasaan Muslim, konon Haikal Sulaiman di hancurkan dan sebagai gantinya didirikan Masjidil Aqsha pada abad ke-7.
Tapi tafsir lain tentang hal ini juga mengartikan Haikal Sulaiman juga sebagai wilayah kekuasan yang luas membentang. Bahkan ada yang menariknya hingga sampai wilayah Khaibar, saat kaum Yahudi diusir di zaman Rasulullah Muhammad. Karena itu, mereka meyakini harus menguasai seluruh dunia, bahkan hingga tanah Khaibar, tempat mereka terusir dahulu karena penghianatanya pada Rasulullah dan piagam Madinah.
Dan untuk itulah mereka bekerja dan membangun, yaitu untuk merebut Haikal Sulaiman dan mendirikan kekuasannya secara nyata, serta mempengaruhi pemerintahan dan kekuasan yang mampu mereka pengaruhi. Dan untuk menebar kekuasaan itu, salah satu rintangan besar yang dihadapi oleh gerakan ini adalah agama-agama, terutama agama Samawi atau agama-agama wahyu, Kristen dan Islam.
Sebelum kaum muslimin sadar tentang bahaya gerakan Freemason, perlawanan terhadap organisasi ini terlebih dulu dilakukan oleh kalangan pemimpin gereja. Perlawanan gereja Katholik ini terjadi karena Freemason telah menjadi organisasi tempat berkumpulnya kaum anti-agama. Dalam sebuah artikel berjudul The Earlier Period Of Freemasonry yang di Mimar Sinan, turki, Freemason disebut sebagai tempat berkumpul para anggota Mason yang mencari kebenaran di luar gereja. Dan ini menjadikan awal abad-18 sebagai tahun-tahun yang penuh pertarungan antara gereja Katholik dengan Freemason di Eropa. Sejak awal berdirinya, Fremason telah menyokong kebebasan beragama, sama persis dengan yang terjadi belakangan ini di berbagai negara, liberalisasi keagamaan.
Freemason berdiri di Inggris secara resmi pada tahun 1717. Tapi tampaknya, sebelum tahun itu pun, Freemasonry telah eksis. Bahkan sejak abad sebelumnya. Tahun 1641, seorang keluarga kerajaan Inggris, Robert Moray tercatat sebagai anggota cabang Freemason di Edinburg, tepatnya 20 Mei 1641. nama lain yang juga tercatat sebagai anggota Freemason sebelum tahun 1717 adalah Elias Ashmole tercatat sebagai anggota Freemasonry di Lanchasire pada 16 Oktober 1646. Dan ia juga salah seorang dari royal family atau keluarga kerajaan.
Dari catatan di atas, sebetulnya bisa ditarik kesimpulan bahwa tahun 1717 hanya tahun pemantapan saja dari tahap-tahap yang telah dilakukan oleh gerakan Freemson. Tahun ini dijadikan sebagai tahun ekspansi untuk melakukan dan menancapkan pengaruh mereka di seluruh dunia.
Tahun 1717 ini dijadikan sebagai tonggak bagi Freemason unuk memulai perangnya yang akan sangat panjang kepada umat beragama dan kepada agama itu sendiri. Seorang kepala gereja protestan di London yang bernama Anderson dan berdarah Yahudi menjadi motor penggeraknya pada 24 Juni 1717. Pada momentum inilah Freemason mendirikan Grand Lodge of England dengan menggabungkan empat lodge menjadi satu.
Banyak sumber Freemason menjelaskan bahwa sejarah berdirinya gerakan ini berakar jauh dan bisa dilacak hingga ke masa Ordo Knight of Templar saat perang Salib di Yerusalem, Palestina. Saat Paus Urbanus II, tahun 1095, usai Konsili Clermont menyerukan Perang Suci atau Crusade dan memobilisasi kaum Kristiani di seluruh Eropa untuk turut berperang merebut Yerusalem kembali dari kekuasaan Muslim. Paus Urbanus II membakar emosi massa dengan cara mengabarkan kabar bohong. Ia mengatakan umat Kristen di Palestina telah dibunuh, dibantai dan dibakar di dalam gereja-gereja oleh pasukan Turki Seljuk yang Muslim. Ia juga membakar kemarahan kaum Kristiani dengan mengatakan bahwa kaum kafir (Muslim Turki, pen.) telah dan sedang menguasai makam Yesus Kristus.
Paus UrbanusII menyerukan agar seluruh pertikaian yang terjadi selama ini antar pemeluk dan kesatrian Kristen harus diakhiri, karena ada musuh yang lebih berbahaya dan harus segera dihancurakan: Islam dan kaum Muslimin. Ia juga mengiming-iming dengan bujukan surgawi, bahwa siapa yang berangkat ke medan perang kan dibebaskan dari seluruh dosa dan di jamin akan mendapat surga. Hasilnya, ribuan kaum Kristiani berangkat menuju Palestina dengan kemarahan. Dan setibanya di sana, terjadi pembantaian besar-besaran atas penduduk Yerussalem dan Palestina.
Selama dua hari penyerbuan terjadi pembantaian yang tak bisa diterima akal sehat dan rasa kemanusiaan. Sebanyak 40.000 penduduk Palestina terbantai. Beberapa sejarawan menggambarkan, saat itu darah menggenangi tanah Yerusalem. Ada yang menyebut darah menggenang setinggi mata kaki, bahkan ada yang menggambarkan darah menggenang hingga lutut manusia dewasa. Tentara berperang dengan motivasi mendapatkan emas dan permata, dan juga banyak para kesatria Prancis tercatat membelah perut korban-korban mereka. Merka mencari emas atau permata yang kemungkinan di telan penduduk Palestina sebagai upaya penyelamatan harta.
Setelah mereka menguasai tanah Palestina, pasukan Salib yang terdiri dari banyak unsur mulai mendirikan kelompoknya masing-masing. Mereka tergabung dalam ordo-ordo tertentu. Para anggota ordo ini datang dari seluruh tanah Eropa, yang ditampung di biara-biara tertentu dan berlatih cara-cara militer di dalam biara tersebut. Dan satu dari sekian ordo yang sangat mencuat namanya adalah Ordo Knight of Templar.
Knight of Templar juga disebut sebagai tentara miskin Pengikut Yesus Kristus dan Kuil Sulaiman. Disebut miskin karena tergambar dari logo yang mereka gunakan, seperti dua tentara yang menunggang seekor keledai. Untuk menunjukkan bahwa mereka miskin, sampai-sampai satu keledai harus dinaiki dua orang tentara Knight of Templar. Bahkan tercatat, mereka dipaksa untuk makan tiga kali saja dalam semingu. Sedangkan nama Kuil Sulaiman mereka pakai karena mereka menjadikan markas mereka yang dipercayai sebagai situs runtuhnya Kuil Sulaiman atau Solomon Temple. Tapi sesungguhnya, pemilihan markas di bukit ini bukan sebuah kebetulan yang bersifat geografis semata, karena para pendiri ordo Knight of Templar sesunguhnya punya cirta-cita sendiri untuk mengembalikan kejayaan dan berdirinya Kuil Sulaiman sebagai tempat suci kaum Yahudi atau tempatnya kaum Mason. Sepanjang bisa terlacak, pendiri ordo ini adalah dua kesatria Prancis, yaitu Hugh de Pavens dan God frey de St Omer. Spekulasi dari kalangan sejarawan mengatakan, bahwa ada darah-darah Yahudi yang mengalir dalam tubuh dan cita-cita para pendiri Ordo Knigh of Templar. Para perwira tinggi Kristen tersebut, sesungguhnya proses convertion yang mereka lakukan hanyalah cara untuk menyelamatkan diri, dan sesungguhnya mereka masih berpegang teguh pada doktrin-doktrin Yahudi, terutama Kabbalah.
Meski mereka menamakan diri sebagai tentara miskin, sesunguhnya mereka tidak miskin sama sekali. Atau setidaknya, masa miskin itu hanya mereka rasakan di awal-awal berdirinya Knight of Templars. Dalam waktu yang singkat mereka mampu menjadi sangat kaya raya dengan jalan melakukan kontrol penuh terhadap peziarah Eropa yang datang ke Palestiana. Salah satunya adalah dengan cara merekrut anak-anak muda putra para bangsawan Eropa yang tentu saja akan melengkapi anak mereka dengan perbekalan dana yang seolah tak pernah kering jumlahnya. Mereka juga disebut sebagai perintis sistem perbankan pertama pada abad pertengahan.
Saat itu banyak orang-orang Eropa yang ingin pindah atau setidaknya berziarah ke Palestina. Dan tentu saja perjalanan yang jauh dari Eropa memerlukan bekal yang tidak sedikit. Ada yang membawa seluruh harta mereka dalam perjalanan, tapi karena tentara Salib disepanjang perjalanan hidup dalam kondisi ayng sangat mengenaskan dan mereka sangat tergiur oleh harta kekayaan, tidak jarang terjadi perampokan bahkan saling bunuh antar orang Kristen disepanjang perjalanan menuju Palestian. Lalu ditemukan cara, para peziarah tidak perlu membawa harta mereka dalam perjalanan. Mereka hanya perlu menitipkannya pada sebuah perwakilan Templar di Eropa, mencatat dan menghitung nilainya dan mereka berangkat ke Palestina berbekal catatan nilai harta yang nantinya akan ditukarkan dengan nilai uang yang sama di Palestina. Gerakan ini banyak didominasi oleh Ordo Knight of Templar yang membuat mereka sangat kaya raya karena mendapat keuntungan dari sistem bunga yang mereka kembangkan. Dan inilah embrio atau cikal bakal perbankan yang kita keanl sekarang.
Markas Knight of Templar di Prancis menjadi rumah penghimpunan harta terbesar di Eropa. Lambat laun mereka menjadi bankir bagi para Paus dan Raja. Bagaimana tidak cepat kaya, setiap tahunyya King Henry II of England mendonasikan uang untuk menanggung biaya hidup 15.000 tentara Knight of Templar dan juga Knight Hospitaler selama mereka berperang dalam Perang Salib di tahun 1170. Untuk menggambarkan betapa besarnya institusi perbankan yang dijalankan Templar, pada saat itu organisasi ini memiliki 7.000 pegawai lebih hanya untuk mengurusi masalah keuangan. Mereka juga memiliki tak kurang dari 870 istana, kastil, dan rumah-rumah para bangsawan yang terbentang dari London hingga Yerusalem.
Karena ordo ini sangat berkuasa, lambat laun mereka mulai menampakkan ciri aslinya, yakni sebagai penganut Mason. Mereka mengembangkan doktrin dan ajaran mistik, juga kekuatan sihir di biara-biara mereka. Mereka memuja setan dan mendatangkan roh-roh untuk berkomunikasi. Apa yang mereka praktikkan ini disebut sebagai Kabbalah, sebuah tradisi mistik Yahudi kuno yang telah berkembang bahkan sejak zaman sebelum Fir’aun.
Mengetahui hal ini, Raja Prancis Philip le Bel, pada tahun 1307 mengeluarkan seruan untuk menangkap dan membubarkan ordo Knight of Templar karena dituduh telah melakukan bid’ah. Dalam perkembangannya, Paus Clement V turut bergabung untuk memerangi kaum Mason ini dengan mengeluarkan kembali vonis inquisisi. Terjadi banyak penangkapan dan interogasi, dan beberapa pimpinan Ordo Knight of Templar yang bergelar Grand Master (penyebutan ini masih dipakai sebagai tingkat tertinggi dalam gerakan Freemasonry sampai sekarang, pen) ikut menjadi korban. Dari beberapa penangkapan dan interograsi didapatkan keterangan bahwa anggota-anggota Templar telah melakukan kejahatan seksual terhadap beberapa perempuan bangsawan, melakukan sodomi, menyembah kucing, memakan daging teman-teman mereka sendiri yang sudah mati. Bahkan salah seorang saksi mata mengatakan, para Templar memperkosa perawan-perawan hingga hamil dan bayinya dibunuh dengan cara yang sadis untuk kemudian di bakar dan diambil minyaknya, dijadikan minyak suci untuk persembahan para pemimpin mereka.
Pada tahun 1307, Raja Philip IV memerintahkan penangkapan Jacques de Molay. Dan setelah melalui penyiksaan demi penyiksaan, de Molay mengakui segala ritual bid’ah yang dilakukan oleh Ordo Templar. Pada tahun 1312, Ordo Knight of Templar dilarang dan dibubarkan. Dan atas perintah Gereja dan Raja , dua tahun kemudian, yaitu pada tahun 1314, para pimpinan Templar dihukum mati, termasuk Jacques de Molay, salah satu Grand Master terpenting Ordo Templar. Jacques de Molay sendiri divonis sebagai heretic (bid’ah) atau kafir dan dihukum dengan cara dibakar hidup-hidup di depan raja Philip IV. Dan sebelum menghembuskan napasnya, de Molay mengeluarkan kata-kata bahwa Raja Philip dan Paus Clement harus mengikutinya, mati, dalam waktu satu tahun. Dan sejarah mencatat, Raja Philip IV meninggal tujuh bulan kemudian, disusul Paus Clement sebulan setelah Raja Philip mangkat.
Setelah itu terjadi pemusnahan besar-besaran, sekali lagi atas kaum Yahudi, dan kali ini bermula dengan kasus Knight of Templar atau kaum Mason. Pemusnahan ini tak hanya terjadi di Palestina, tapi juga terjadi di Eropa. Mereka diburu untuk ditangkap dan dibunuh. Sampai akhirnya mereka berhasil melarikan diri dan mendapat perlindungan dari Raja Skotlandia, Robert The Bruce yang dilantik dan menduduki singgasana Raja pada tahun 1306. Dan di tanah baru ini pula mereka menyusun kekuatan kembali. Dan Skotlandia menjadi salah satu yang menentukan dalam perkembangan gerakan Freemason.
Versi yang lebih tua dari sejarah Freemason adalah kisah yang menyebutkan pembentukan Freemasonry pada zaman Raja Israel, Herodes Agripa I yang meninggal pada tahun 44 Masehi. Freemason pada zaman ini dibentuk untuk membendung ajaran agama yang disampaikan oleh Nabi Isa as. Konon waktu itu namanya The Secret Power atau kekutan yang Tersembunyi.
Tujuan utamanya adalah memusuhi pengikut Nabi Isa, menculik mereka, membunuh, melarang penyebaran agama baru tersebut, termasuk membunuhi baya-bayi Kristen. Tapi, berkenaan dengan segala kesadisan yang dilakukan Herodes ini, para sejarawan dunia, meyakini bahwa hal tersebut hanyalah mitos belaka dalam tradisi agama Kristen. Herodes Agripa I menjalankan segala misi The Secret Power ini dibantu dua pengikut setianya, Heram Abioud sebagai Wakil Presiden gerakan dan Moab Leumi sebagai pemegang rahasia utama gerakan ini. Tapi beberapa anggota Freemason juaga mempercayai dan menarik sejauh mungkin sejarah mereka ke masa lalu, bahkan hingga ke zaman Fir’aun. Itu pula yang menjadi salah satu penjelasan mengapa mereka kerap kali menggunakan simbol-simbol Mesir Kuno dalam tradisi dan aktivitas ritual mereka, seperti penggunaan Dewa Horus, Piramida, Matahari dan berbagai simbol Mesir lainnya. Penggunaan ini bermula dari penggalian Kuil Sulaiman oleh para Templa dan penemuan doktrin dan ajaran Kabbalah yang terus-menerus mereka eksplorasi dan diajarkan dari mulut ke mulut. Penggalian ini begitu serius mereka lakukan sehingga kelak akan mempengaruhi cara pandang kaum Templar dan juga rencana mereka pada kehidupan dunia.
Sumber: Dikutip dari berbagai sumber.

Kamis, 24 Desember 2015

MEMAHAMI ARTI KATA RABBANI



MEMAHAMI ARTI KATA RABBANI
Oleh : Jabbar Sambudi ll Presnas FoSSEI ll Executive Program Baitulmal Tazkia

ekonom-rabbani2
Allah telah berfirman dalam salah saty ayat-Nya, tidak wajar bagi seseorang manusia yang Allah berikan kepadanya Al Kitab, Hikmah dan kenabian, lalu Dia berkata kepada manusia: “Hendaklah kamu menjadi penyembah-penyembahku bukan penyembah Allah.” akan tetapi (dia berkata): “Hendaklah kamu menjadi orang-orang rabbani, karena kamu selalu mengajarkan Al kitab dan disebabkan kamu tetap mempelajarinya. Dalam ayat tersebut Allah menyebut kata ‘rabbani’, lantas apa makna kata tersebut? Penjelasan kata robbani dapat ditelusuri dalam Ilmu Tafsir Al Imam Ibnu Jarir Ath Thabari. Beliau menjelaskan bahwa seorang yang Robbani harus memiliki 5 hal.
1.    ‘Alim dan Mutsaqqaf
Seorang Robbani haruslah seorang yang berilmu dan berwawasan. Ada semangat belajar yang kuat di dalam dirinya. Ia akan dapat tergerak dengan asma Allah lalu mensyiarkannya. Seorang Robbani tidak hanya akan pandai untuk dirinya seorang, namun juga dapat memandaikan orang. Tidak hanya bergerak dalam keilmuan, namun juga menggerakkan. Tidak hanya hidup dalam keilmuan, namun juga menghidupi. Tidak hanya berjuang dalam keilmuan, namun juga memperjuangkan.

Lantas, ilmu apa yang wajib dipelajari? Ilmu Allah. Soal dikotomi duniawi ukhrawi, Imam Ghazali berpendapat, “Boleh jadi fiqh itu ilmu duniawi. Dan boleh jadi kedokteran dan ilmu pertekstilan adalah ilmu akhirat.”
Bagaimana logikanya? Mungkin memperhatikan kondisi zamannya, Al Ghazali mengambil contoh pembahasan tentang zhihar. Ketika seorang suami mengucapkan “Engkau bagiku seperti punggung ibuku!” pada istrinya. Di masa jahiliah status istri menjadi tidak jelas. Tapi di masa Islam, zhihar jelas ketentuannya di QS Al-Mujadilah. Pembahasan berpelik-pelik, kalau begini, kalau begitu, yang dilakukan para ahli fiqh di masa itu bagi Al Ghazali hanyalah untuk mencari keuntungan duniawi.
Tetapi sebaliknuya, beliau melihat bertapa minimnya dokter Muslim saat itu. Sehingga ketika seseorang berpenyakit pencernaan sementara esok hari bulan Ramadhan tiba, kaum Muslimin beramai-ramai meminta fatwa pada dokter Yahudi dan Nashrani. Ini ilmu akhirat, jangan sampai diserahkan pada seorang yang bukan Muslim.
Nah demikian juga ilmu tekstil. Jika menutup auratnya seorang Muslim menyerahkan jenis kain, model jahitan, dan trendnya pada yang bukan Muslim hingga aurat tat tertutup sempurna, siapa yang berdosa? Semua.
Berkorelasi juga dengan ilmu ekonomi. Jika semua orang melakukan transaksi dengan unsur ribawi, unsur gharar, dan unsur-unsur lain yang tidak dibolehkan dalam Islam, lantas wajibkah belajar ilmu ekonomi? Jika banyak orang pintar di dalam bidang ekonomi kemudian memaksakan sistem yang tidak Islami dalam bidang ekonomi, lantas siapakah yang salah? Semua.
2.    Faqih
Apa bedanya ‘Alim dengan Faqih? Dalam kata-kata Imam Asy Syafi’I, “Kalian, para ahli hadits, adalah apoteker. Kami, para ahli fiqh, adalah dokter.” Apoteker mempunyai ilmu tentang obat, tetapi tidak memahami kondisi pasien. Dan oleh karena itu, dia tidak memiliki otoritas menentukan terapi bagi kesembuhan mereka. Demikian pula bagi Imam Asy Syafi’I, berpegang hanya pada teks seperti lazimnya Ahli Hadits berbuat akan membuat repot pasien, yakni ummat.
Diperlukan seorang dokter, seorang Faqih, yang dengan keluasan waswasan dan pemahaman kondisi, mengetahui seluk-beluk organ dan interaksi kimianya, bias merumuskan satu resep, satu fatwa yang tepat. Diperlukan kolaborasi antara ‘Alim dan Faqih dalam memecahkan permasalahan umat. Perlu orang ‘Alim dalam bidang ekonomi serta orang Faqih dalam bidang ekonomi.
Seorang yang Robbani, mencoba untuk melihat apa yang ada di balik sesuatu, mendengarkan yang tak terucapkan, dan menilai dari berbagai sisi yang tak selalu linier. Seorang ‘Alim mungkin saja lahir dari ruang berisi buku-buku, tetapi seorang Faqih muncul di tengah orang ramai yang menghadapi banyak persoalan.
3.    Al Bashirah bis Siyasah
Seorang Robbani, memiliki kedalaman pandangan tentang politik. Politik Islam adalah seni mengelola urusan publik agar manusia merasa indah beribadah dan mampu menjadikan setiap aktivitas mereka sebagai ibadah. Dia mampu mengelola sebuah kebijakan yang membuat orang kaya merasa terjamin hartanya dan gembira menunaikan kewajibannya. Kebijakan itu membuat orang miskin merasa tenteram sekaligus bersemangat dalam etos kerja.
Seorang Ekonom Robbani, juga harus dapat memadukan antara pengetahun ekonomi dengan kedalaman politik. Mampu mengolaborasikannya dengan harmonis, dan mampu mementingkan kepentingan umat daripada kepentingan pribadi ataupun golongan.
4.    Al Bashirarh bit Tadbir
Serang yang Robbani juga memiliki kedalaman pandangan dalam hal manajemen. Dia mempunyai visi yang kuat, atau biasa dibilang dengan seorang yang visioner. Dia tahu bagaimana menempatkan suatu sumber daya pada posisi yang tepat. Didasari hal inilah, mungkin Rasulullah tidak pernah mengangkat Umar ibn Al Khattab menjadi komandan satuan pasukan besar. Bukan dia tak mampu. Tetapi model seperti Umar akan mementingkan mencari kematian syahadah daripada kemenangan pasukan yang dipimpinnya.
Khalid bin Walid berbeda. Saat dipecat dari kedudukan sebagai panglima ia berujar, “Kini aku bebas mencari kematian. Kemarin ketika menjadi panglima, tentu kupikirkan pasukanku. Kini aku berpikir tentang diriku sendiri, dan ia merindukan surga.” Kalau bukan karena dia panglima, Khalid mungkin tidak perlu mematahkan sampai 13 bilah pedang dalam perang Mut’ah.

Demikian juga, pandangan tajam manajerial Nabi membuat beliau langusng menunjuk ‘Amr bin Al ‘Ash beberapa saat sesudah dia masuk Islam untuk menjadi komandan satuan yang di dalamnya bergabung para sahabat senior termasuk Abu Bakr dan Umar. Malamnya, saat mereka berkemah, tiba-tiba Amr memerintahkan semua memadamkan api.
Umar tersinggung. Terlihat olehnya pasukan itu kedinginan, dan beberapa yang lain sedang memasak makanan. “Tidak, jangan matikan apinya!”, seru Umar. Abu Bakr yang ada di sampingnya langsung menegur, “Wahai Umar, dia pemimpin yang ditunjuk Rasulullah untuk kita. Taatlah pada Allah, RasulNya, dan pemimpinmu!” Umar masih menggerutu. Tetapi beberapa saat kemudian dia menuyadari Amr benar. Bunyi ringkik dan tapak kaki kuda patroli musuh, ratusan agaknya, terdengan begitu mengerikan. Tetapi kafilah patrol itu lewat saja. Maka Abu Bakr pun tersenyum padanya.
Hari berikutnya, Amr memerintahkan pasukannya berhenti di luar pekampungan kabilah yang akan diserang. “Aku akan masuk. Jika aku tak kembali hingga mentari tergelincir, kalian serbulah ke dalam!” Umar protes lagi. “Jika kau ingin syahid, kami semua juga! Tetaplah kita bersama!” Dengan lirikan, kembali Abu Bakr mengingatkan Umar. Dan Umar pun patuh. Beberapa waktu kemudian, Amr telah kembali bersama pemimpin kabilah yang telah masuk Islam bersama pengikutnya, atas diplomasi Amr. Kabilah itu tunduk, tanpa setetes darah pun tertumpah. Seandainya jadi Abu Bakr mungkin saat itu kita akan berkata pada Umar, “Nah. Gua bilang juga apa?”
5.    Al Qiyam bis Su-nir Rai’yah li Mashlahatid Dunya wa Diin
Poin ini adalah implementasi dari poin ketiga dan keempat. Kata kuncinya adalah kepedulian kepada kepentingan publik. Seorang yang Robbani memiliki peran dalam menegakkan kepentingan masyarakat banyak dalam kerangka kebaikan dunia dan agama. Ada advokasi, ada penyantunan, ada pelayanan, ada peningkatan kesejahteraan, dan ada kebijakan yang membuka peluang-peluang kebaikan.
Tidak hanya kepentingan pribadi yang didahulukan, melainkan mementingkan kepentingan bersama untuk kemashlahatan dunia dan akhirat. Seorang Robbani akan terus melakukan amal jama’i atau kerja sama dalam mewujudkan cita-cita tersebut. Itulah orang-orang Robbani yg tergambar dalam Q.S Al-Hajj: 41 (yaitu) orang-orang yang jika Kami teguhkan kedudukan mereka di muka bumi niscaya mereka mendirikan sembahyang, menunaikan zakat, menyuruh berbuat ma’ruf dan mencegah dari perbuatan yang mungkar; dan kepada Allah-lah kembali segala urusan.
Sudahkah kita menjadi seorang yang Rabbani…?

Wallahu A’lam

URGENSI KELOMPOK STUDI EKONOMI ISLAM



URGENSI KELOMPOK STUDI EKONOMI ISLAM
Oleh :Jabbar Sambudi ll Presnas FoSSEI


“Seperti halnya perintah Allah swt kepada Nabi Muhammad dalam wahyu yang dibawakan Jibril, “Iqra!.” Bacalah! Seru Malaikat Jibril kepada Nabi Muhammad saw. “Sungguh aku tidak mampu membacanya.” Begitu jawaban Sang Nabi. Dan percakapan tersebut berulang hingga 3 kali sampai Jibril as berseru kepada Nabi Muhammad saw, “Bacalah dengan nama Tuhanmu yang telah menciptakanmu.” Dan kisah ini telah diabadikan oleh Allah dalam Q.S Al-‘Alaq: 1-5.”

Perintah Allah yang pertama adalah seruan untuk membaca. Jika diperluas, bahwa seruan pertama agar manusia dapat berpikir. Membaca fenomena alam, membaca kekuasaan Allah dengan cara berpikir. Itulah tugas pertama umat manusia dilahirkan di muka bumi, untuk membaca dan berpikir. Karena dengan berpikir inilah Nabi Ibrahim menemukan kebenaran. Nabi Ibrahim mengira bahwa Bulan adalah Tuhannya, namun ternyata masih ada cahaya yang lebih daripada bulan. Nabi Ibrahim mengira bahwa Matahari adalah Tuhannya, namun ternyata Matahari terbit dan terbenam. Kemudian Nabi Ibrahim bertafakkur, bahwa Tuhannya adalah Dzat yang menciptakan Bulan dan Matahari.
Jadi, sebelum beribadah dan menjadi khalifatullah, manusia diseru untuk berpikir agar dapat membedakan mana yang haq dan mana yang bathil. Dengan demikian manusia dapat beribadah dan menjadi khalifatullah seutuhnya. Bukan menuhankan pikiran dan akal, namun mengomparasi antara akal dan ayatullah untuk mendapatkan kebenaran yang hakiki. Demikianlah perintah “Iqra!” yang ditujukan kepada manusia.
Dalam konteks Kelompok Studi Ekonomi Islam (KSEI), perintah “Iqra!” ini juga harus diejawantahkan. Dengan membaca dan berpikirlah kita dapat membedakan haq dan bathil. Maka, Ruh dari sebuah KSEI adalah KAJIAN. Kenapa dengan kajian? Ya karena dengan kajian, kita ‘dipaksa’ untuk membaca, ‘dipaksa’ untuk berdiskusi, dan ‘dipaksa’ untuk menulis.
Runtutnya adalah demikian, kita banyak membaca, dari hasil bacaan kemudian didiskusikan, dan hasil diskusi kemudian ditulis ulang. Demikianlah yang dimaksud dengan kajian. Kajian bukan berarti hanya ‘mendengarkan’ orang yang berbicara dalam sebuah kegiatan yang kita sebut dengan kajian. Itu namanya mendengarkan ceramah bukan mengkaji. Mengkaji itu ketika kita sudah dapat ilmunya dari buku-buku, kemudian didiskusikan dalam sebuah kegiatan, dan lebih baiknya lagi adalah menulis kembali.
Setiap orang itu mempunyai kaliber. Ada yang kalibernya tingkat internasional, nasional, provinsi, kabupaten, atau bahkan kalibernya cuma desa. Kalau kita sebut (alm) Wahbah Zuhaili, kita semuanya tentu tahu siapa beliau, nah kaliber beliau ini berarti sudah internasional. Kalau kita sebut Adiwarman Karim, kita di Indonesia pasti juga tahu, nah berarti kaliber beliau itu sudah menasional. Dan setiap orang mempunyai masing-masing kaliber. Kaliber itu ditentukan atas 3 hal: pengalaman, pengetahuan, dan wawasan. Semakin banyak pengalaman, pengetahuan dan wawasan, maka kaliber seseorang juga semakin besar.
Pengetahuan itu didapat dari membaca, diskusi dan menulis. Maka, ayo kita perbanyak membaca, diskusi dan menulis. Dan ketiga hal tersebut terhimpun dalam satu kata, yaitu “mengkaji” alias melakukan “kajian.” Itu kita baru berbicara satu aspek, pengetahuan. Dan pengetahuan tidak hanya didapat dari bangku kelas, banyak pengetahuan yang kita dapatkan di luar kelas. Itulah fungsi KSEI, menambah pengetahuan kader-kadernya.
Kembali ke topik utama, Ruh dari sebuah KSEI adalah kajian. Ketika sebuah KSEI tidak ada kajian, maka berarti KSEI tersebut telah kehilangan ruhnya. Maka himbauannya, minimal sepekan sekali KSEI harus melakukan kajian. Pengurus di top management harus memberikan contoh dengan banyak membaca, yang kemudian selanjutnya dapat menghimbau pengurus yang lain untuk banyak membaca. Selanjutnya, lakukan diskusi secara berkala. Nah, jika sepekan sekali dilaksanakan yang demikian, KSEI tersebut dapat berkualits, Sumber Daya Insani juga dapat berkualitas, dan secara makro kita mendorong Indonesia juga berkualitas. Sekali lagi, ruh dari sebuah KSEI adalah kajian.
Jangan diperbanyak agenda yang sifatnya extravaganza. Bagaiman itu? KSEI membuat seminar nasional atau internasional, tapi panitia yang membuatnya malah ga tahu apa yang dibicarakan oleh pembicara. Coba kita rubah mindset, jika indikator suksesnya seminar adalah banyaknya peserta dan lancaranya acara, bagaimana jika indikator suksesnya seminar adalah lebih mengertinya panitia dan peserta tentang isi seminar? Rubah mindset, dan jadilah orang yang berkualitas.
Ini bukan berarti melarang membuat seminar, bukan itu point utamanya. Tapi rubahlah mindset, dan mengertilah tentang arti dari sebuah seminar tersebut. Hanya orang penting yang tahu akan kepentingan, dan hanya pejuang yang tahu makna sebuah perjuangan. Jadi, cukupkan agenda yang sifatnya extravaganza, dan kembalikan kepada hal yang fundamental.
Ingat! Organisasi kita itu namanya Kelompok Studi Ekonomi Islam. Dan seharusnya, nama organisasi itu mencerminkan rentetan program organisasi tersebut. Maka, memang dan sudah menjadi sebuah keharusan bahwa agenda utama KSEI adalah studi, alias belajar atau kajian. Jadi, jika kegiatan utamanya (kajian) tidak ada, maka silahkan rubah nama saja.
Selanjutnya, dalam merespon sebuah isu, terdapat dua pendekatan, yaitu direct dan indirect. Direct adalah pendekatan secara langsung, sedangkan indirect adalah pendekatan secara tidak langsung. Isu yang sedang hangat sekarang misalnya adalah kasus freeport. KSEI harus merespon isu tersebut secara direct atau langsung. Pendekatan secara direct dilakukan dengan membentuk kajian tentang freeport, menulis opini tentang freeport, melakukan diskusi tentang freeport, dan semuanya dikupas tuntas dalam tajuk kajian.
Pendekatan kedua adalah dengan cara indirect atau tidak langsung. Dalam merespon isu freeport ini dapat dilaksanakan dengan membangun sistem kaderisasi yang baik. Inti dari kaderisasi adalah melahirkan kader-kader yang militan dan berkualitas. Jika sistem kaderisasinya baik, maka kita sudah menyiapkan manusia-manusia yang berkualitas untuk 10-30 tahun yang akan datang. Dengan manusia yang berkualitas, maka dapat dipastikan, masalah layaknya freeport tidak akan terulang kembali. Demikianlah urgentnya sebuah sistem kaderisasi yang baik.
Kaderisasi ini dibentuk agar para kader mempunyai jiwa kepemimpinan yang mumpuni, mempunyai karakter yang unggul, dan mempunyai militan yang kuat terhadap nilai-nilai agama Islam. Dan kawah pembentukan Sumber Daya Insani yang unggul itulah berada pada tugas kaderisasi. Kebenaran yang tidak sistemiik, akan dapat dikalahkan oleh kebathilan yang sistemik.
Simpelnya, urgensi dari Kelompok Studi Ekonomi Islam adalah kajian dan kaderisasi. Kedua hal tersebut adalah komponen utama dalam merespon isu yang berkembang. Jika asumsi kader FoSSEI setiap tahunnya adalah 1.500 orang, dengan kajian dan kaderisasi yang baik, maka kita sudah menyiapkan generasi-generasi yang militan yang siap membumikan ekonomi Islam.
Jadilah lidi-lidi perjuangan yang kuat. KSEI ibarat sebuah lidi. Jika lidi tersebut rapuh, maka bagaimana kita dapat menyapu kebathilan di halaman rumah kita? Maka, dibutuhkan tidak hanya satu lidi yang kuat, namun juga dibutuhkan puluhan hingga ratusan lidi yang kuat. Dan lidi tersebut tidaklah berguna jiika bekerja sendirian, dibutuhkan kerja sama dalam konteks amal jamai. Itulah fungsi FoSSEI, mengikat lidi-lidi yang kuat dalam satu ikatan, bersama-sama berjuang dalam membersihkan kebathilan yang ada. “Al Haqqu min Rabbika, fa laa takunanna minal mumtariin.”
Wallahu A’lam